Feeds:
Tulisan
Komentar

Ganyong Obat Monyong

Ganyong. Sejenis umbi ini mengingatkanku waktu kecil. Saat itu ibuku sering merebus ganyong buat camilan. Katanya daripada bengong, monyong, mending makan Ganyong. Rasanya pulen, legit, agak kemanis-manisan dan bergizi cukup tinggi, terutama kandungan karbohidratnya. Selain itu, kuncup bunganya yang menyerupai kuku-kuku panjang sering dipakai anak seusiaku untuk pasaran. Bijinya yang bulat, ada yang menyebut dengan jali, bisa diuntai dengan benang menjadi sebuah kalung. Sekitar tahun 1980an di sepanjang parit depan rumahku banyak ditumbuhi tanaman ini. Kata orang-orang namanya tanaman ganyong atau ada yang menyebutnya lembong. Menurut orang tuaku, umbi tanaman ini menjadi makanan favorit tahun 65-an, pada masa Gestapu hingga saat krisis tahun 1975an, sama favoritnya dengan makanan rakyat jelata yang lain, seperti: thiwul, nasi aking (gogik), daun genjer (gendhot), daun talas (lumbu), dan krokot (sejenis rumput berdaun agak lebar).

Menurut para pakar tanaman pangan, Ganyong (Canna edulis Ker.) atau bahasa Inggrisnya: quennsland arrowroot, berasal dari Amerika Tropika, dan telah tersebar ke Asia, Australia, dan Afrika. Umbi mudanya di Amerika Selatan dimakan sebagai sayuran, dan kadang digunakan sebagai pencuci mulut. Ganyong cukup berpotensi sebagai sumber hidrat arang. Data Direktorat Gizi Depkes RI menyebutkan bahwa kandungan gizi Ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri dari kalori 95,00 kal; protein 1,00 g; lemak 0,11 g; karbohidrat 22,60 g; kalsium 21,00 g; fosfor 70,00 g; zat besi 1,90 mg; vitamin B1 0,10 mg; vitamin C 10,00 mg; air 75,00 g. Umbi yang dewasa dapat dimakan dengan mengolahnya lebih dulu atau untuk diambil patinya. Sisa umbinya yang tertinggal setelah diambil patinya dapat digunakan sebagai kompos. Sementara pucuk dan tangkai daun muda dipakai untuk pakan ternak. Bunga daunnya yang cukup indah dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Selain itu tanaman Ganyong ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai obat, antara lain untuk mengobati panas dalam dan radang saluran kencing.

Bibit Ganyong dapat diperoleh lewat umbi atau anakan. Tradisinya lebih cenderung menggunakan bibit anakan. Setelah bibit siap, segera siapkan pula lahannya. Tanah dicangkul sedalam 30 cm sampai gembur, dan biarkan selama sekitar 15 hari. Setelah itu, dicangkul lagi sambil dibuatkan guludan-guludan, dengan ukuran lebar 40 – 60 cm, tinggi 25 – 30 cm, dan panjang disesuaikan kondisi lapangan. Jarak antar-guludan sekitar 10 – 100 cm. Buatkan lubang tanam sedalam 10 – 15 cm, dengan jarak-lubang biasanya 30 x 30 x 30 cm. Bibit anakan dimasukkan ke lubang tanam, lalu ditimbun dengan tanah. Setelah ditanam, lakukan perawatan dan pemeliharaan. Penyiangan dilakukan sebulan sekali, bersamaan dengan penggemburan tanah dan guludan. Di samping itu, lakukan juga pemupukan. Serangan hama dan penyakit hampir-hampir tidak ada. Pemanenan Ganyong bergantung tujuan penggunaannya. Bila untuk umbi rebus yang langsung dimakan, maka petiklah Ganyong muda berumur 6-8 bulan. Sebaliknya, jika akan digunakan untuk pembuatan produk pati atau tepung bisa dipanen tua (15-18 bulan). Demikian menurut sumber dari internet.

Kebun Ganyong di Samping Rumah

Kebun Ganyong di Samping Rumah


Sekarang aku baru tahu mengapa banyak orang melakukan budidaya Ganyong, terutama di sekitar tempat tinggalku di daerah Malang arah Kota Batu. Bahkan di samping rumah kontrakan sekarang ditanami Ganyong. Begitu membuka jendela langsung terlihat tanaman ganyong nan subur dengan dedaunan yang lebar hijau coklat di tepinya. Sudah dua kali periode tanam, periode pertama gagal, banyak yang layu atau kerdil karena kurang air. Pada periode kedua ini nampaknya bakal sukses, karena air hujan melimpah ruah. Meski pada penanaman awal agak ribet, kini ladang itu dibiarkan saja, ladang Ganyong tetap tumbuh dengan lebat dan subur. Di sekelilingnya malah dipakai tanaman tumpang sari: seperti cabai, kemangi, kenikir, tomat, dan terong. Wah betul-betul serbaguna ini lahan. Sukses buat petani Ganyong!

Ular Ngamar

t026Menjelang malam sehabis maghrib, istriku berteriak-teriak memanggilku. Ternyata ada ular menyelinap di balik tumpukan buku-buku di kamar. Waktu itu istriku sedang nonton TV sambil menemani tidur si kecil. Akupun bergegas mengangkat anakku keluar kamar. Aku dan istriku heran, dari mana ular itu masuk? Sejak kapan? Padahal malam harinya kupakai tidur itu kamar. Sepertinya ular itu nyasar masuk karena mengejar mangsa atau sedang mencari kehangatan karena waktu itu udara sangat dingin sehabis hujan.Mungkin sensor ular itu menangkap sinyal kehangatan di dalam rumah sehingga masuk rumah tanpa permisi.

Sambil membawa sapu kuberanikan diri sodok sana sodok sini namun sang ular belum keluar. Nampaknya masih sembunyi di balik CPU komputer yang penuh kabel. Lalu kuambil Baygon, kusemprotkan berkali-kali. Akhirnya nongol juga tuh ular. Ternyata ular itu masih anakan. Panjangnya kira-kira 50 cm dengan diameter 2 cm. Aku sempat kewalahan mengusirnya. Ular itu lincah sekali, gesit dan sesekali menegakkan kepala sambil mengeluarkan bunyi: psst! Psst! Wah rupanya sejenis Kobra nih. Aku mulai cemas, sepertinya ular itu semakin bingung, mungkin marah karena merasa terusik.

Hampir setengah jam aku mengusir ular namun tetap saja belum berhasil. Pikiranku mulai macam-macam. Jangan-jangan ular itu adalah jin. Karena menurut hadits bisa jadi ular adalah wujud dari jin yang ada di rumah. Kalau nanti ular itu kubunuh bisa kuwalat tidak ya?, pikirku. Kontan aku menyuruh istriku memanggil Mbah Dayat yang tinggal di depan rumah. Di Kampung, Mbah Dayat merupakan sesepuh. Dia juga tau tentang hal yang mistis. Apalagi dia adalah pawang kesenian kuda lumping di kampung. Biar ditangani Mbah Dayat saja ularnya, nanti kalau ada apa-apa kan bukan aku yang kena. Wah pikiran licik nih.

Mbah Dayat datang sambil membawa bilah bambu, agak besar dan ujungnya runcing. Begitu masuk kamar langsung dipukulnya ular itu, dijepit lalu ditusuk dengan bambu. Sang ular langsung mati. Kasihan! Kalau saja si ular bisa bicara baik-baik mungkin tak kan mengenaskan seperti ini. Aku lantas bertanya pada Mbah Dayat perihal ular tersebut. Katanya ular itu adalah Ular Dumung Macan, sangat berbisa. Mungkin sejenis Kobra Jawa atau Kobra Tanah. Kata Mbah, semburan upasnya bisa membuat orang menjadi buta jika kena mata atau luka bakar jika terkena kulit. Untung-untung.. Untung istriku melihat ular itu. Untung ketahuan sehingga belum sempat ngigit. Untung tidak masuk dalam selimut anakku, atau masuk mulut anakku, karena waktu itu anakku lagi mlongoh (terbuka mulutnya). Untung.. tidak masuk dalam sarungku pas aku tidur…

Mbah Dayat bergegas membuang ular itu jauh-jauh. Akupun lantas mengambil garam. Setiap pintu masuk ku taburi garam, biar ular tidak berani masuk. Katanya garam bisa membikin perih kulit ular. Sekembalinya dari membuang ular, Mbah Dayat menyuruhku mengolesi garam pada tengkuk, dahi dan kaki anakku. Maksudnya apa ya? Kata Mbah biar terhindar dari ular lagi. Weleh-weleh.. terus penjelasan ilmiahnya apa ya? Mungkin waktu dulu ketika anak-anak masih tinggal dalam goa kali ya, biar gak digigit ular, tubuhnya dilumuri garam. Itu baru masuk akal. Selain itu Mbah Dayat juga menanyakan padaku dan istriku apa kami berdua atau keluarga masih punya rembag (janji)? Kujawab tidak. Kata Ilmu Kejawen, ular masuk rumah pertanda bahwa si empunya rumah masih punya janji yang belum dilaksanakan. Apalagi yang masuk rumah adalah Ular Weling (Jawa= pesan). Kuingat-ingat sepertinya aku gak punya janji, istriku juga. Janji apa ya? Jadi kepikiran terus. Hmmh.. Mitos memang kadang mengusik pikiran. Setelah ku ceritakan kejadian di atas kepada orang tua dan mertua, mereka kompak menjawab, “Terang saja, wong rumahmu dekat sawah!”.

Menempuh perjalanan jauh lewat jalur darat bagiku terasa sangat melelahkan. Bahkan membayangkannya saja sudah bikin pusing. Apalagi harus meninggalkan istri dan anakku yang baru berusia 2 minggu. Namun karena hal itu adalah kewajibanku sebagai seorang abdi negara, akupun berusaha membuktikan dedikasiku meski harus berlelah-lelah. Awal Peruari 2009, aku beserta salah satu staf mendapat tugas kantor untuk melakukan seleksi peserta diklat guru di Kabupaten Tangerang. Alamat yang kami tuju adalah Dinas Pendidikan Kab. Tangerang di wilayah komplek perkantoran Cikokol.

Tiga hari sebelum keberangkatan aku mulai mengurus segala sesuatunya, termasuk tiket bis. Aku diberitahu teman yang juga akan ke Cilegon agar sekalian saja bersama-sama naik bis Malino Putra. Lalu aku ke Agen Malino Putra di daerah Pertokoan Kayutangan Malang. Aku bilang ke petugas tiket bahwa tujuanku ke Cikokol. Tarifnya waktu itu Rp 250 ribu per orang, mungkin disamakan dengan Jurusan Malang-Merak. Namun pagi hari sebelum berangkat, aku ditelpon petugas dari agen katanya Bis Malino mengalami keterlambatan masuk Malang karena terhalang banjir di daerah Babat Lamongan. Yah.. Gak jadi naik Malino, padahal aku belum pernah naik ini bis. Tak apalah mungkin lain waktu. Tak ada Malino, Pahala pun jadi. Akhirnya aku dan teman-teman naik bis Pahala Kencana dengan tarif yang tertulis dalam tiket ternyata lebih murah yaitu Rp 230 ribu.

Saat berhenti di RM Uun Pamanukan

Saat berhenti di RM Uun Pamanukan

Tepat pukul 14.00 bis berangkat meninggalkan Terminal Arjosari Malang dengan membawa 8 penumpang, padahal kapasitas 32 penumpang. Perjalanan sepertinya menyenangkan. Kondisi bis yang masih baru, full AC yang tidak terlalu dingin, TV, toilet, bantal plus selimut, juga kursi jok yang masih empuk dengan sandaran pelurus kaki, meski terasa sempit karena ada tas di antara kaki hingga kaki sulit slonjor alias diluruskan. Pelayanan lain yaitu: kupon servis makan gratis 1x dan kardus snack berisi roti dan sebotol air mineral merk Club. Sebenarnya aku ingin duduk di sebelah jendela karena biasanya aku langsung tertidur jika kepala bersandar ke jendela beralas bantal. Tapi tempat itu kupersilahkan buat temanku yang belum pernah ke luar kota naik bis, biar dia puas melihat pemandangan selama perjalanan. Dari fasilitas yang ada dalam bis, semuanya oke. Namun jika dibandingkan dengan bis lain, ada satu yang kurang: yaitu jam, yang biasa dipasang menempel di atas kaca depan atau sebelah kiri sopir.

Lanjut Baca »

Namanya, Habib.

img_0033Alhamdulillah, pada hari Minggu 18 Januari 2009, jam 23.28 istriku melahirkan anak pertama melalui persalinan normal. Dengan ditangani oleh 4 orang bidan di RS Puri Bunda, Jl. Simpang Sulfat Malang, anakku lahir ke dunia dengan status kelamin laki-laki, berat: 3,7 kg, dan panjang 51 cm. Minggu 25 Januari 2009, genap satu minggu usianya, dilaksanakanlah aqiqah –menyembelih 2 ekor kambing dan membagikannya dlm bentuk makanan plus nasi kotak ke tetangga sekitar–. Didoai oleh Pak Modin dengan disaksikan para kerabat, dicukur sebagian rambutnya, dan diberi nama. Namanya Habib Rizky Benzena, dipanggil Habib.

Makna di Balik Nama Anak(ku)

CB009005“Apalah arti sebuah nama”, demikian kata William Shakespeare. Nama sebaik apa pun belum tentu membuat si pemilik nama menjadi baik pula. Sebuah nama nampaknya hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Namun bagiku, persoalan nama bukanlah hal mudah. Apalagi dalam hal memberi nama si buah hati. Nama tentunya mengandung arti yang mendalam, punya falsafah, punya makna dan harapan, sekaligus doa. Bukankah memberi nama yang baik, sangat dianjurkan dalam agama? Menurut cerita dalam sebuah hadits, seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw dengan mengandeng anaknya, lalu dia bertanya : “Ya, Rasulullah, apa hak anakku ini atasku?” Rasulullah menjawab, “Membaguskan namanya, memperbaiki adabnya (sopan santun) dan menempatkannya pada kedudukan (posisi) yang baik” (H.R. Aththusi). Juga dalam Qur’an Surat Al Hujurat: 11 lebih-lebih dinyatakan bahwa: ““Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan (nama) ialah panggilan yang fasik (buruk) sesudah iman.“

Ketika kehamilan istriku memasuki bulan ke-8, aku mencoba mencari nama-nama yang cocok untuk anakku kelak. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dan mertua ternyata mereka menyerahkan sepenuhnya pemberian nama pada kami. Lalu kuputuskan untuk mencari katalog nama via internet. Awalnya aku ingin memberi nama anakku dengan nama dari bahasa sansekerta atau bahasa wayang, karena cerita wayang yang sarat makna. Namun ingin juga memberi nama dengan bahasa Arab/Islam biar terkesan religius. Atau gabungan antara keduanya, sansekerta dan Islam. Tapi koq rasanya kurang pas di telinga. Sementara istriku mengusulkan memakai bahasa kimia, karena dia seorang guru kimia.

Aku teringat perkataan dosenku saat kuliah dulu, bahwa nama kalau bisa bersifat unik, eksotik kalau perlu yang nyleneh tetapi tetap sarat makna. Perkara aneh di telinga yang penting niatannya bagus. Dia mencontohkan nama-nama seniman: Bagong, Butet, Jadug, nama yang mengandung peristiwa alam seperi Guntur, Guruh, (putra Bung Karno) Halilintar, Samudra, nama-nama politis seperti Gempur Suharto, Galang Rambu Anarki (putra Iwan Fals), atau nama profesi seperti Laksamana Sukardi, Sutradara Ginting, meski dua tokoh tersebut akhirnya menjadi politikus handal, melenceng dari namanya.

Sesuai prediksi bakal melahirkan anak laki-laki, dengan berat di atas 3,5 kg, aku mulai mereka-reka sebuah nama yang pas. Nama yang agak unik, menunjukkan karakter besar, islami, mudah diucapkan untuk panggilannya, tidak terlalu panjang (tiga kata saja, biar tidak repot bagi yang nulis ijazah), serta berawal abjad tengah (bukan A, B, C, atau W, Y, Z). Kata istriku biar nanti nomor presensi di sekolah tidak di awal, tidak juga di akhir, karena biasanya guru menunjuk giliran berdasarkan huruf abjad nama depan siswa. Disepakatilah kemudian huruf depan nama calon anakku adalah H. Nama yang terpilih adalah Habib (=yang tercinta). Namun aku masih agak ragu apakah nama Habib dapat dipakai, mengingat menurut cerita teman, nama Habib hanya boleh digunakan dalam komunitas tertentu (keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW).

Entah kenapa, aku menjadi selalu terngiang nama Habib, sampai-sampai terbawa mimpi. Mungkin karena sering mendengar berita serta berdebat tentang sepak terjang Habib Rizieq, tokoh FPI yang tersohor itu. Aku bertanya pada temanku yang aktivis PKS, apa boleh menamai anak dengan Habib? Temanku bilang tidak ada larangan. Dalilnya belum ketemu. Aku cari-cari lagi di internet, dan ternyata nama Habib sering dipakai untuk memanggil nama anak laki-laki di Mesir. Bahkan nama yang dianjurkan dalam Islam, nama Habib juga tercantum di dalamnya. Akhirnya pada suatu waktu aku bertemu dengan seorang anak Kiai dari Pondok Pesantren terkenal di Singosari yang kebetulan singgah di sekolah tempat ngajar istriku. Ternyata beliau juga memberi nama anak laki-lakinya dengan Habib, meski tdak ada garis nasab dari Nabi SAW. Semakin bulatlah aku untuk memberi nama depan bagi calon anakku dengan Habib.

Nama depan sudah, nama tengah tinggal mengekor saja. Karena sudah kadung terobsesi dengan Habib Rizieq, karena ketegasan dan kelurusannya (meski terkadang bertentangan dengan pemerintah), maka nama tengahnya dipilih nama mirip-mirip Rizieq, yaitu Rizky (semoga penuh rizki, harapannya). Ya, Habib Rizky, nama yang unik? Sepertinya biasa-biasa saja. Namun terkesan sudah akrab di kuping karena namanya seolah plesetan dari sang Ketua FPI itu. Habib Rizky, semoga kelak menjadi orang besar dan lebih njawani karena aku dan istriku bagaimanapun terlahir sebagai seorang Jawa, rakyat Mataram.

Mungkin yang unik adalah nama belakangnya. Istriku memilih nama Benzena. Kata Benzena diambil dari istilah senyawa kimia yang ditemukan oleh Michael Faraday tahun 1825. Benzena yang mempunyai rumus C6H6, adalah senyawa kimia organik yang mempunyai aroma yang manis. Benzena adalah salah satu komponen dalam bensin dan merupakan pelarut yang penting dalam dunia industri. Benzena juga dipakai sebagai bahan dasar dalam produksi obat-obatan, plastik, bensin, karet buatan, dan pewarna. So, nama Benzena diharapkan bahwa anak yang lahir nanti selalu membuat harum lingkungan tempat dia berada.

Lain halnya dengan istriku, aku selalu mengkaitkan nama Benzena mirip dengan pesepakbola muslim berbakat dan terkenal, Karim Benzema dari Olympique Lyon, Prancis. Pemain berbandrol mahal yang saat ini masih berusia 20 tahun itu tengah didekati klub-klub papan atas Eropa, seperti Real Madrid, Barcelona, dan klub favoritku Manchester United. Siapa tahu kelak besar nanti anakku dapat menjadi pesepakbola handal seperti Karim Benzema.

Sepertinya sudah lengkap nama untuk anak pertamaku: Habib Rizky Benzena. Anak laki-laki yang tercinta dengan limpahan rizki dan mampu mengharumkan lingkungan di mana saja dia berada. Semoga.

Asal Muasal Nama Baturaden

baturaden5Baturaden terletak di sebelah selatan kaki Gunung Slamet pada ketinggian sekitar 640 meter di atas permukaan laut. Lokasi obyek wisata andalan di Kabupaten Banyumas ini berjarak sekitar 14 km arah utara Kota Purwokerto. Sejak tahun 1928, Baturaden dikenal sebagai obyek wisata pegunungan. Pengunjung bisa menikmati keindahan pemandangan alam dan udara pegunungan yang sejuk dengan suhu antara 18°-25°C. Dalam kondisi cuaca yang bagus dan cerah, pemandangan Kota Purwokerto, Nusakambangan, dan Pantai Cilacap dapat terlihat dengan jelas dari Puncak Baturaden. Tempat wisata ini juga menawarkan panorama nan indah, di antaranya: Curug Gede, Pancuran Pitu, Pancuran Telu, Telaga Sunyi, Taman Kaloka Widyamandala, dan Taman Botani.

Ada dua versi sejarah Baturaden. Versi Syekh Maulana Maghribi dan versi Adipati Kutaliman. Versi yang terakhir inilah yang  banyak dijumpai. Dalam versi ini, cerita Baturaden terkait dengan kisah cinta antara putri Adipati Kutaliman atau ada yang menyebut Adipati Pangembrongan dengan pembantunya yang menjaga kuda.

Alkisah Adipati Kutaliman mempunyai putri yang amat cantik. Tak heran jika banyak bangsawan meminangnya. Namun Sang Putri selalu menolak pinangan itu. Usut punya usut terrnyata Sang Putri telah menjalin cinta dengan seorang Gamel (tukang memelihara kuda) kadipaten. Mengetahui hal itu, Adipati marah besar hingga keduanya diusir dari kadipaten. Dalam pengembaraannya Sang Putri dan Gamel  masuk keluar hutan hingga akhirnya menetap di lereng Gunung Slamet. Tempat tersebut kemudian diberi nama Baturaden. Berasal dari kata batur (pembantu/bawahan) dan raden (golongan bangsawan).

Pohon “Budi”

oa1xx1881

Beberapa waktu yang lalu sehabis senam pagi, Pak Kapus P4TK CESS menyampaikan pandangannya soal penghijauan di kantor baru Pendem. Menurut beliau, para karyawan boleh menanam pohon terutama tanaman buah agar halaman kantor baru yang gersang lebih cepat hijau dan menghasilkan. Untuk lebih menarik minat, pohon yang telah ditanam nantinya diberi nama penanamnya, bisa jadi nanti akan muncul spesies baru dan selalu menjadi kenangan, misalnya ada Mangga Milan, Rambutan Uun, Jambu Slamet, dan sebagainya.

Bagi para peminat dipersilahkan untuk berkoordinasi dengan Pak Budi, selaku urusan pertamanan. Pak Budi juga diharapkan segera mendesain taman dan tanaman apa yang akan menghiasi halaman kantor yang akan segera ditempati itu. Begitu Pak Kapus selesai memberi arahan. Seseorang di barisan belakang berbisik, “Wah kalau tidak ada karyawan yang setor tanaman, bisa-bisa semua tanaman di kantor baru, berlabel Budi semua karena yang menanam Pak Budi”. Masak gitu?

wr4122271Kerja adalah fungsi sosial yang paling penting bagi manusia, karena dari satu sudut pandangan, manusia adalah organisasi kerja. Dalam organisasi kerja ini secara garis besar terdapat dua kelompok, yakni kelompok pekerja (labors) dan kelompok pengawas (supervisors). Sebagian besar manusia adalah pekerja (labors). Hanya sebagian kecil saja yang merupakan pengawas (supervisors).

Proses kerja melibatkan orang, baik dalam kelompok kerja kecil (small work groups) maupun dalam kelompok kesatuan organisasi yang besar (large corporate organizations). Dari kerja ini pula lahir hubungan-hubungan kerja yang meluas di kalangan masyarakat dan menjadikan kerja sebagai “public interest”. Secara demikian proses kerja serta pola-pola hubungan kerja mempengaruhi organisasi sosial dari suatu masyarakat.

Lanjut Baca »

bapang3 PAGI yang cerah saat Tim dari Labdik Sosantro PPPPTK   PKn dan IPS Malang meluncur ke Tumpang, kota kecamatan yang berjarak kurang lebih 23 km arah timur Kota Malang. Berbekal info seadanya kami mencoba mencari data primer tentang eksistensi Topeng Malang di Dusun Glagahdowo Desa Pulungdowo Kec. Tumpang.
Setelah berkali-kali bertanya kepada warga, akhirnya kami sampai di rumah Pak Sutrisno (66) , salah satu seniman topeng malang yang masih tersisa. Namun kami tidak bisa bertemu langsung dengan beliau, karena penyakit stroke yang dideritanya. Kami ditemui oleh putra tertua Pak Sutrisno, Mas Eko Hadi Wijaya, yang juga sebagai pendiri Komunitas Panggonan, pewaris seniman topeng di Glagahdowo. Melalui Mas Eko, kami mendapat banyak informasi tentang perkembangan topeng malang, dari sejarah sampai kondisi saat ini.


Sejarah Topeng Glagahdowo

Berawal dari hadirnya seniman topeng, Mbah Kasimun atau yang dikenal dengan nama Mbah Item. Beliau adalah seorang pengamen tari topeng yang berkeiling dari kampung ke kampung, dari Tumpang, Probolinggo, Ranu Pani (arah Puncak Semeru) hingga ke Lumajang. Dalam mengembangkan keseniannya itu, Mbah Item mengajarkan tari dan teknik menyungging topeng. Dalam perkembangannya, didirikanlah padepokan Sri Margo Utomo sebagai wadah kesenian topeng.
Melalui dua murid Mbah Item yakni Mbah Rasimun dan Pak Sutrisno, padepokan Topeng Malang semakin berkembang. Tidak sedikit orang yang menimba seni adiluhung di sana, tidak hanya warga sekitar, namun juga dari luar kota bahkan dari mancanegara. Salah satu murid yang pernah berguru di tempat itu adalah Didik Nini Thowok, seniman tari asal Yogyakarta.

Lanjut Baca »

Sentimen

oa1xx528

Kalau percaya mentah-mentah kepada Nietzsche memang gawat, karena orang seperti ini begitu sinis. Contohnya, dalam memaknai sentimen. Dalam On The Genealogy of Morals, Nietzsche berpendapat bahwa orang yang mau maju itu harus punya sentimen..

Sesungguhnya ujaran Friedrich Nietzsche (1844-1900) tentang sentimen ini harus dipahami dalam terminologi mentalitas Tuan-Budak yang popular itu (Fransisco Budi Hardiman, Filsafat Modern, Gramedia, 2004, hal. 269-271) kalau manusia ingin selamat, maka ia harus memiliki mental Tuan, yakni kehendak untuk berkuasa, yang harus berarti menerjunkan diri ke dalam konflik untuk meraih kemenangan, di mana setiap takdir ditolak, untuk menjadikan manusia sebagai penguasa atas dirinya sendiri (manusia atas). Sebaliknya, adalah mental Budak yang selalu mencari pembenaran atas nasib buruk yang menindas dirinya. Nah, untuk memberontak atas keterbudakannya itulah manusia harus memiliki sentimen, mengembangkan segenap iri dan dengkinya kepada suatu tindakan, untuk akhirnya menjadi Tuan.

Anjuran yang seolah-olah membenarkan kejahatan ini adalah sinisme Nietzsche atas puritanisme (paham yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral atau agama) yang melanda Eropa pada zamannya, yang pada gilirannya melahirkan masyarakat hipokrit (penuh kepura-puraan atau munafik)

Dalam perumusan kembali oleh Franz Magnis Suseno —yang berpijak dari pembalikan sinisme Nietzsche oleh Max Scheler— (Seno Gumira Ajidarma, Surat dari Palmerah, Jakarta: KPG, 2002, hal.242-243) disebutkan bahwa sentimen adalah peracunan diri jiwa. Apapun yang keluar dari hati orang yang bersentimen menjadi bengkok dan negatif, segala penilaian terkena distorsi alias penyimpangan. Orang yang bersentimen tidak dapat menghayati yang baik dan yang lurus. Apapun dicurigai dan diartikan negatif. Sentimen mengancam keutuhan batin seseorang. Oleh karena itu, memberi ruang kepada sentimen berarti membiarkan diri teracuni dari dalam

Yang tak habis pikir mengapa begitu banyak tindakan sentimen yang merajalela? Dan seringkali mendapat pembenaran dari tangan-tangan kekuasaan? Apakah ini berarti bahwa para penguasa sebagai manusia sebenarnya bermental budak dan ingin menjadi Tuan? Ini cuma sebuah pertanyaan, yang bisa dijawab oleh orang-orang yang berpikir.

Tulisan Sebelumnya »