
Kalau percaya mentah-mentah kepada Nietzsche memang gawat, karena orang seperti ini begitu sinis. Contohnya, dalam memaknai sentimen. Dalam On The Genealogy of Morals, Nietzsche berpendapat bahwa orang yang mau maju itu harus punya sentimen..
Sesungguhnya ujaran Friedrich Nietzsche (1844-1900) tentang sentimen ini harus dipahami dalam terminologi mentalitas Tuan-Budak yang popular itu (Fransisco Budi Hardiman, Filsafat Modern, Gramedia, 2004, hal. 269-271) kalau manusia ingin selamat, maka ia harus memiliki mental Tuan, yakni kehendak untuk berkuasa, yang harus berarti menerjunkan diri ke dalam konflik untuk meraih kemenangan, di mana setiap takdir ditolak, untuk menjadikan manusia sebagai penguasa atas dirinya sendiri (manusia atas). Sebaliknya, adalah mental Budak yang selalu mencari pembenaran atas nasib buruk yang menindas dirinya. Nah, untuk memberontak atas keterbudakannya itulah manusia harus memiliki sentimen, mengembangkan segenap iri dan dengkinya kepada suatu tindakan, untuk akhirnya menjadi Tuan.
Anjuran yang seolah-olah membenarkan kejahatan ini adalah sinisme Nietzsche atas puritanisme (paham yang berpegang teguh pada nilai-nilai moral atau agama) yang melanda Eropa pada zamannya, yang pada gilirannya melahirkan masyarakat hipokrit (penuh kepura-puraan atau munafik)
Dalam perumusan kembali oleh Franz Magnis Suseno —yang berpijak dari pembalikan sinisme Nietzsche oleh Max Scheler— (Seno Gumira Ajidarma, Surat dari Palmerah, Jakarta: KPG, 2002, hal.242-243) disebutkan bahwa sentimen adalah peracunan diri jiwa. Apapun yang keluar dari hati orang yang bersentimen menjadi bengkok dan negatif, segala penilaian terkena distorsi alias penyimpangan. Orang yang bersentimen tidak dapat menghayati yang baik dan yang lurus. Apapun dicurigai dan diartikan negatif. Sentimen mengancam keutuhan batin seseorang. Oleh karena itu, memberi ruang kepada sentimen berarti membiarkan diri teracuni dari dalam
Yang tak habis pikir mengapa begitu banyak tindakan sentimen yang merajalela? Dan seringkali mendapat pembenaran dari tangan-tangan kekuasaan? Apakah ini berarti bahwa para penguasa sebagai manusia sebenarnya bermental budak dan ingin menjadi Tuan? Ini cuma sebuah pertanyaan, yang bisa dijawab oleh orang-orang yang berpikir.