PAGI yang cerah saat Tim dari Labdik Sosantro PPPPTK PKn dan IPS Malang meluncur ke Tumpang, kota kecamatan yang berjarak kurang lebih 23 km arah timur Kota Malang. Berbekal info seadanya kami mencoba mencari data primer tentang eksistensi Topeng Malang di Dusun Glagahdowo Desa Pulungdowo Kec. Tumpang.
Setelah berkali-kali bertanya kepada warga, akhirnya kami sampai di rumah Pak Sutrisno (66) , salah satu seniman topeng malang yang masih tersisa. Namun kami tidak bisa bertemu langsung dengan beliau, karena penyakit stroke yang dideritanya. Kami ditemui oleh putra tertua Pak Sutrisno, Mas Eko Hadi Wijaya, yang juga sebagai pendiri Komunitas Panggonan, pewaris seniman topeng di Glagahdowo. Melalui Mas Eko, kami mendapat banyak informasi tentang perkembangan topeng malang, dari sejarah sampai kondisi saat ini.
Sejarah Topeng Glagahdowo
Berawal dari hadirnya seniman topeng, Mbah Kasimun atau yang dikenal dengan nama Mbah Item. Beliau adalah seorang pengamen tari topeng yang berkeiling dari kampung ke kampung, dari Tumpang, Probolinggo, Ranu Pani (arah Puncak Semeru) hingga ke Lumajang. Dalam mengembangkan keseniannya itu, Mbah Item mengajarkan tari dan teknik menyungging topeng. Dalam perkembangannya, didirikanlah padepokan Sri Margo Utomo sebagai wadah kesenian topeng.
Melalui dua murid Mbah Item yakni Mbah Rasimun dan Pak Sutrisno, padepokan Topeng Malang semakin berkembang. Tidak sedikit orang yang menimba seni adiluhung di sana, tidak hanya warga sekitar, namun juga dari luar kota bahkan dari mancanegara. Salah satu murid yang pernah berguru di tempat itu adalah Didik Nini Thowok, seniman tari asal Yogyakarta.
Cerita Panji
Topeng Malang atau Topeng Malangan pada hakikatnya adalah wayang orang yang mengenakan topeng. Cerita yang disajikan pun seputar masalah kepahlawanan atau cerita panji. Cerita Panji menampilkan setting latar belakang Kerajaan Jenggala dengan tokoh Prabu Lembu Amiluhur dan Raden Panji Asmara Bangun, Kerajaan Daha dengan tokoh Lembu Amisesa, Gunung Sari, dan Dewi Sekartaji, serta Kerajaan Kediri dengan tokoh Pambelah, Pamecut, Patih Kudamawarsa, Lembu Pati, dengan tokoh antagonis Klana Sabrang, Bapang, dan wadyabala.
Karena terbatasnya pelakon, sementara tokoh yang diperankan sangat banyak, karena itulah dipilih media topeng. Oleh karena itu seorang penari dituntut dapat membawakan lebih dari satu atau dua karakter. Dalam pementasan, cerita Panji memakai 20-30 topeng yang dipentaskan antara 8-10 orang.
Perkembangan Topeng Malangan
Hingga tahun 2000-an paling tidak, ada 4 sentra pengembangan seni topeng malang. Selain di Glagahdowo, ada juga sentra topeng milik Ki Soleh di Mangundarmo Tumpang, Kedungmonggo Pakisaji milik Mbah Karimun, dan di Jabung Pakis. Perbedaan keempat sentra tersebut semata dimungkinkan karena pengaruh geografis serta interpretasi para pewarisnya. Dari itu muncul aliran-aliran khas daerah pembuatnya. Seperti halnya perbedaan tekstur topeng yang tergantung dari keterampilan para pembuatnya. Misalnya di Glagahdowo, tekstur Sekartaji terkesan lebih putih dan gemuk.
Hambatan dan Harapan
Pengaruh global semakin menenggelamkan kesenian tradisional seperti Topeng Malangan ini. Pementasan wayang topeng yang memakan waktu kurang lebih satu malam itu sudah dianggap tidak praktis lagi untuk dipentaskan saat hajatan.
Sementara itu generasi muda terutama mereka para pewaris langsung, mempunyai kewajiban moral untuk meneruskan tradisi tersebut. Keadaan menjadi lebih sulit manakala pemerintah sangat kurang berperan dalam pelestarian budaya ini. Oleh karena itu, Mas Eko mengharapkan agar Topeng Malang dapat masuk dalam kurikulum muatan lokal. Dari situ diharapkan anak didik bisa mencintai tari topeng melalui gerakan dan berbagai filosofinya. Peran semua pihak sangat diharapkan agar Topeng Malang yang telah menjadi ciri khas tetap lestari. (ST)