“Apalah arti sebuah nama”, demikian kata William Shakespeare. Nama sebaik apa pun belum tentu membuat si pemilik nama menjadi baik pula. Sebuah nama nampaknya hanyalah salah satu tanda untuk mengenali seseorang. Namun bagiku, persoalan nama bukanlah hal mudah. Apalagi dalam hal memberi nama si buah hati. Nama tentunya mengandung arti yang mendalam, punya falsafah, punya makna dan harapan, sekaligus doa. Bukankah memberi nama yang baik, sangat dianjurkan dalam agama? Menurut cerita dalam sebuah hadits, seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw dengan mengandeng anaknya, lalu dia bertanya : “Ya, Rasulullah, apa hak anakku ini atasku?” Rasulullah menjawab, “Membaguskan namanya, memperbaiki adabnya (sopan santun) dan menempatkannya pada kedudukan (posisi) yang baik” (H.R. Aththusi). Juga dalam Qur’an Surat Al Hujurat: 11 lebih-lebih dinyatakan bahwa: ““Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan (nama) ialah panggilan yang fasik (buruk) sesudah iman.“
Ketika kehamilan istriku memasuki bulan ke-8, aku mencoba mencari nama-nama yang cocok untuk anakku kelak. Setelah berkonsultasi dengan orang tua dan mertua ternyata mereka menyerahkan sepenuhnya pemberian nama pada kami. Lalu kuputuskan untuk mencari katalog nama via internet. Awalnya aku ingin memberi nama anakku dengan nama dari bahasa sansekerta atau bahasa wayang, karena cerita wayang yang sarat makna. Namun ingin juga memberi nama dengan bahasa Arab/Islam biar terkesan religius. Atau gabungan antara keduanya, sansekerta dan Islam. Tapi koq rasanya kurang pas di telinga. Sementara istriku mengusulkan memakai bahasa kimia, karena dia seorang guru kimia.
Aku teringat perkataan dosenku saat kuliah dulu, bahwa nama kalau bisa bersifat unik, eksotik kalau perlu yang nyleneh tetapi tetap sarat makna. Perkara aneh di telinga yang penting niatannya bagus. Dia mencontohkan nama-nama seniman: Bagong, Butet, Jadug, nama yang mengandung peristiwa alam seperi Guntur, Guruh, (putra Bung Karno) Halilintar, Samudra, nama-nama politis seperti Gempur Suharto, Galang Rambu Anarki (putra Iwan Fals), atau nama profesi seperti Laksamana Sukardi, Sutradara Ginting, meski dua tokoh tersebut akhirnya menjadi politikus handal, melenceng dari namanya.
Sesuai prediksi bakal melahirkan anak laki-laki, dengan berat di atas 3,5 kg, aku mulai mereka-reka sebuah nama yang pas. Nama yang agak unik, menunjukkan karakter besar, islami, mudah diucapkan untuk panggilannya, tidak terlalu panjang (tiga kata saja, biar tidak repot bagi yang nulis ijazah), serta berawal abjad tengah (bukan A, B, C, atau W, Y, Z). Kata istriku biar nanti nomor presensi di sekolah tidak di awal, tidak juga di akhir, karena biasanya guru menunjuk giliran berdasarkan huruf abjad nama depan siswa. Disepakatilah kemudian huruf depan nama calon anakku adalah H. Nama yang terpilih adalah Habib (=yang tercinta). Namun aku masih agak ragu apakah nama Habib dapat dipakai, mengingat menurut cerita teman, nama Habib hanya boleh digunakan dalam komunitas tertentu (keturunan langsung dari Nabi Muhammad SAW).
Entah kenapa, aku menjadi selalu terngiang nama Habib, sampai-sampai terbawa mimpi. Mungkin karena sering mendengar berita serta berdebat tentang sepak terjang Habib Rizieq, tokoh FPI yang tersohor itu. Aku bertanya pada temanku yang aktivis PKS, apa boleh menamai anak dengan Habib? Temanku bilang tidak ada larangan. Dalilnya belum ketemu. Aku cari-cari lagi di internet, dan ternyata nama Habib sering dipakai untuk memanggil nama anak laki-laki di Mesir. Bahkan nama yang dianjurkan dalam Islam, nama Habib juga tercantum di dalamnya. Akhirnya pada suatu waktu aku bertemu dengan seorang anak Kiai dari Pondok Pesantren terkenal di Singosari yang kebetulan singgah di sekolah tempat ngajar istriku. Ternyata beliau juga memberi nama anak laki-lakinya dengan Habib, meski tdak ada garis nasab dari Nabi SAW. Semakin bulatlah aku untuk memberi nama depan bagi calon anakku dengan Habib.
Nama depan sudah, nama tengah tinggal mengekor saja. Karena sudah kadung terobsesi dengan Habib Rizieq, karena ketegasan dan kelurusannya (meski terkadang bertentangan dengan pemerintah), maka nama tengahnya dipilih nama mirip-mirip Rizieq, yaitu Rizky (semoga penuh rizki, harapannya). Ya, Habib Rizky, nama yang unik? Sepertinya biasa-biasa saja. Namun terkesan sudah akrab di kuping karena namanya seolah plesetan dari sang Ketua FPI itu. Habib Rizky, semoga kelak menjadi orang besar dan lebih njawani karena aku dan istriku bagaimanapun terlahir sebagai seorang Jawa, rakyat Mataram.
Mungkin yang unik adalah nama belakangnya. Istriku memilih nama Benzena. Kata Benzena diambil dari istilah senyawa kimia yang ditemukan oleh Michael Faraday tahun 1825. Benzena yang mempunyai rumus C6H6, adalah senyawa kimia organik yang mempunyai aroma yang manis. Benzena adalah salah satu komponen dalam bensin dan merupakan pelarut yang penting dalam dunia industri. Benzena juga dipakai sebagai bahan dasar dalam produksi obat-obatan, plastik, bensin, karet buatan, dan pewarna. So, nama Benzena diharapkan bahwa anak yang lahir nanti selalu membuat harum lingkungan tempat dia berada.
Lain halnya dengan istriku, aku selalu mengkaitkan nama Benzena mirip dengan pesepakbola muslim berbakat dan terkenal, Karim Benzema dari Olympique Lyon, Prancis. Pemain berbandrol mahal yang saat ini masih berusia 20 tahun itu tengah didekati klub-klub papan atas Eropa, seperti Real Madrid, Barcelona, dan klub favoritku Manchester United. Siapa tahu kelak besar nanti anakku dapat menjadi pesepakbola handal seperti Karim Benzema.
Sepertinya sudah lengkap nama untuk anak pertamaku: Habib Rizky Benzena. Anak laki-laki yang tercinta dengan limpahan rizki dan mampu mengharumkan lingkungan di mana saja dia berada. Semoga.