Ganyong. Sejenis umbi ini mengingatkanku waktu kecil. Saat itu ibuku sering merebus ganyong buat camilan. Katanya daripada bengong, monyong, mending makan Ganyong. Rasanya pulen, legit, agak kemanis-manisan dan bergizi cukup tinggi, terutama kandungan karbohidratnya. Selain itu, kuncup bunganya yang menyerupai kuku-kuku panjang sering dipakai anak seusiaku untuk pasaran. Bijinya yang bulat, ada yang menyebut dengan jali, bisa diuntai dengan benang menjadi sebuah kalung. Sekitar tahun 1980an di sepanjang parit depan rumahku banyak ditumbuhi tanaman ini. Kata orang-orang namanya tanaman ganyong atau ada yang menyebutnya lembong. Menurut orang tuaku, umbi tanaman ini menjadi makanan favorit tahun 65-an, pada masa Gestapu hingga saat krisis tahun 1975an, sama favoritnya dengan makanan rakyat jelata yang lain, seperti: thiwul, nasi aking (gogik), daun genjer (gendhot), daun talas (lumbu), dan krokot (sejenis rumput berdaun agak lebar).
Menurut para pakar tanaman pangan, Ganyong (Canna edulis Ker.) atau bahasa Inggrisnya: quennsland arrowroot, berasal dari Amerika Tropika, dan telah tersebar ke Asia, Australia, dan Afrika. Umbi mudanya di Amerika Selatan dimakan sebagai sayuran, dan kadang digunakan sebagai pencuci mulut. Ganyong cukup berpotensi sebagai sumber hidrat arang. Data Direktorat Gizi Depkes RI menyebutkan bahwa kandungan gizi Ganyong tiap 100 gram secara lengkap terdiri dari kalori 95,00 kal; protein 1,00 g; lemak 0,11 g; karbohidrat 22,60 g; kalsium 21,00 g; fosfor 70,00 g; zat besi 1,90 mg; vitamin B1 0,10 mg; vitamin C 10,00 mg; air 75,00 g. Umbi yang dewasa dapat dimakan dengan mengolahnya lebih dulu atau untuk diambil patinya. Sisa umbinya yang tertinggal setelah diambil patinya dapat digunakan sebagai kompos. Sementara pucuk dan tangkai daun muda dipakai untuk pakan ternak. Bunga daunnya yang cukup indah dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Selain itu tanaman Ganyong ternyata juga dapat dimanfaatkan sebagai obat, antara lain untuk mengobati panas dalam dan radang saluran kencing.
Bibit Ganyong dapat diperoleh lewat umbi atau anakan. Tradisinya lebih cenderung menggunakan bibit anakan. Setelah bibit siap, segera siapkan pula lahannya. Tanah dicangkul sedalam 30 cm sampai gembur, dan biarkan selama sekitar 15 hari. Setelah itu, dicangkul lagi sambil dibuatkan guludan-guludan, dengan ukuran lebar 40 – 60 cm, tinggi 25 – 30 cm, dan panjang disesuaikan kondisi lapangan. Jarak antar-guludan sekitar 10 – 100 cm. Buatkan lubang tanam sedalam 10 – 15 cm, dengan jarak-lubang biasanya 30 x 30 x 30 cm. Bibit anakan dimasukkan ke lubang tanam, lalu ditimbun dengan tanah. Setelah ditanam, lakukan perawatan dan pemeliharaan. Penyiangan dilakukan sebulan sekali, bersamaan dengan penggemburan tanah dan guludan. Di samping itu, lakukan juga pemupukan. Serangan hama dan penyakit hampir-hampir tidak ada. Pemanenan Ganyong bergantung tujuan penggunaannya. Bila untuk umbi rebus yang langsung dimakan, maka petiklah Ganyong muda berumur 6-8 bulan. Sebaliknya, jika akan digunakan untuk pembuatan produk pati atau tepung bisa dipanen tua (15-18 bulan). Demikian menurut sumber dari internet.

Kebun Ganyong di Samping Rumah
Sekarang aku baru tahu mengapa banyak orang melakukan budidaya Ganyong, terutama di sekitar tempat tinggalku di daerah Malang arah Kota Batu. Bahkan di samping rumah kontrakan sekarang ditanami Ganyong. Begitu membuka jendela langsung terlihat tanaman ganyong nan subur dengan dedaunan yang lebar hijau coklat di tepinya. Sudah dua kali periode tanam, periode pertama gagal, banyak yang layu atau kerdil karena kurang air. Pada periode kedua ini nampaknya bakal sukses, karena air hujan melimpah ruah. Meski pada penanaman awal agak ribet, kini ladang itu dibiarkan saja, ladang Ganyong tetap tumbuh dengan lebat dan subur. Di sekelilingnya malah dipakai tanaman tumpang sari: seperti cabai, kemangi, kenikir, tomat, dan terong. Wah betul-betul serbaguna ini lahan. Sukses buat petani Ganyong!