Menempuh perjalanan jauh lewat jalur darat bagiku terasa sangat melelahkan. Bahkan membayangkannya saja sudah bikin pusing. Apalagi harus meninggalkan istri dan anakku yang baru berusia 2 minggu. Namun karena hal itu adalah kewajibanku sebagai seorang abdi negara, akupun berusaha membuktikan dedikasiku meski harus berlelah-lelah. Awal Peruari 2009, aku beserta salah satu staf mendapat tugas kantor untuk melakukan seleksi peserta diklat guru di Kabupaten Tangerang. Alamat yang kami tuju adalah Dinas Pendidikan Kab. Tangerang di wilayah komplek perkantoran Cikokol.
Tiga hari sebelum keberangkatan aku mulai mengurus segala sesuatunya, termasuk tiket bis. Aku diberitahu teman yang juga akan ke Cilegon agar sekalian saja bersama-sama naik bis Malino Putra. Lalu aku ke Agen Malino Putra di daerah Pertokoan Kayutangan Malang. Aku bilang ke petugas tiket bahwa tujuanku ke Cikokol. Tarifnya waktu itu Rp 250 ribu per orang, mungkin disamakan dengan Jurusan Malang-Merak. Namun pagi hari sebelum berangkat, aku ditelpon petugas dari agen katanya Bis Malino mengalami keterlambatan masuk Malang karena terhalang banjir di daerah Babat Lamongan. Yah.. Gak jadi naik Malino, padahal aku belum pernah naik ini bis. Tak apalah mungkin lain waktu. Tak ada Malino, Pahala pun jadi. Akhirnya aku dan teman-teman naik bis Pahala Kencana dengan tarif yang tertulis dalam tiket ternyata lebih murah yaitu Rp 230 ribu.

Saat berhenti di RM Uun Pamanukan
Tepat pukul 14.00 bis berangkat meninggalkan Terminal Arjosari Malang dengan membawa 8 penumpang, padahal kapasitas 32 penumpang. Perjalanan sepertinya menyenangkan. Kondisi bis yang masih baru, full AC yang tidak terlalu dingin, TV, toilet, bantal plus selimut, juga kursi jok yang masih empuk dengan sandaran pelurus kaki, meski terasa sempit karena ada tas di antara kaki hingga kaki sulit slonjor alias diluruskan. Pelayanan lain yaitu: kupon servis makan gratis 1x dan kardus snack berisi roti dan sebotol air mineral merk Club. Sebenarnya aku ingin duduk di sebelah jendela karena biasanya aku langsung tertidur jika kepala bersandar ke jendela beralas bantal. Tapi tempat itu kupersilahkan buat temanku yang belum pernah ke luar kota naik bis, biar dia puas melihat pemandangan selama perjalanan. Dari fasilitas yang ada dalam bis, semuanya oke. Namun jika dibandingkan dengan bis lain, ada satu yang kurang: yaitu jam, yang biasa dipasang menempel di atas kaca depan atau sebelah kiri sopir.
Pukul 15.30 bis masuk terminal Purabaya Bungurasih Surabaya yang disambut hujan cukup lebat. Bis langsung mengambil parkir di jajaran bis malam lainnya jurusan Jakarta seperti Lorena, Kramatdjati. Hampir satu jam berhenti, bis melanjutkan perjalanan dengan hanya dapat tambahan 4 penumpang. Menyusuri tol ke arah Gresik, Lamongan, hingga Tuban, bis berjalan stabil, sang pengemudi cukup tenang, hingga getaran, goncangan, serta rem dadakan hampir tak terasa. Pukul 18.15 bis singgah di Rumah Makan Taman Sari Tuban. Seluruh penumpang berkesempatan turun untuk servis makan, sholat, ataupun ke kamar kecil.
Sudah makan, kenyang, bis berjalan lagi. Kali ini sopirnya ganti. Nampaknya caranya nyopir tidak seperti sopir pertama tadi. Ngebut, zigzag, ngerem tiba-tiba.. wah kayak reli Paris-Dakar saja. Padahal menyusuri jalur Pantura antara Tuban hingga Rembang, jalannya sangat sempit. Mata ngantuk tapi tak bisa tidur lelap. Jadi tidurnya mirip ayam, merem-melek. Perasaanku selalu was-was, takut kalau bis nabrak atau apa. Tanpa terasa bis sudah memasuki gerbang tol Kanci di daerah Cirebon. Waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi. Jam segini baru masuk Kanci? Wah jam berapa nanti nyampe Tangerang? Biasanya jam segitu sudah masuk Subang.
Mata masih ngantuk saat bis memasuki halaman Rumah Makan Uun di Pamanukan Subang. Saat itu jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Saatnya untuk sholat subuh, dan mengisi perut. Tidak ada servis gratis makan di sini. Makan bayar sendiri. Aku beli bakso sama the botol. Sebelas ribu habisnya. Lumayan buat ganjal perut. Sementara temanku memilih untuk ngirit, makan sisa roti semalam. Setelah kurang lebih 45 menit beristirahat, bis akan melanjutkan perjalanan. Ada 4 bis Pahala Kencana yang siap berangkat. Para sopir dan kondektur mulai berembug. Oper-mengoper pun terjadi. Empat penumpang dioper ke Bis Pahala Kencana yang lain karena beda jurusan. Kali ini driver dipegang oleh sopir pertama.
Terasa nyenyak tidur di pagi hari. Hingga melewati Tol Cikampek sekitar jam 09.30 aku terbangun. Masuk Kota Jakarta, bis mulai putar-putar. Akupun bingung meski sudah berulang kali melewati jalur itu. Tidak bisa dibayangkan, mungkin kalau sendirian nyetir mobil, dijamin bakalan nyasar. Bis singgah sebentar di Terminal Rawamangun, menurunkan sebagian penumpang. Tinggal kami berempat, 2 ke Cilegon, 2 ke Cikokol plus satu orang lagi, cewek yang ikut ke Cikokol. Ditanya sama kondektur Cikokolnya daerah mana, kami cengar-cengir. Pokoknya Cikokol. Wah payah.. membayangkan saja susah, Cikokol itu tempatnya seperti apa.
Pukul 11-an kondektur meminta kami tuk bersiap. Cikokol sudah dekat. Cikokol! Cikokol! Tapi turun mana ya! Daripada kelihatan begonya, kami ngikut cewek yang mau turun Cikokol. Akhirnya kami turun di depan Agen Bis Rosalia Indah Cikokol. Daripada tambah bingung langsung saja aku dan teman naik taksi warna biru (lupa namanya). Bayar di atas gak apa-apa, tidak pakai argo tak masalah karena ongkos kan sudah dibiayai kantor. Yang penting kami tahu lokasi kami akan bertugas. Kami minta diantar ke Dinas Pendidikan Kab. Tangerang, Jalan Perintis Kemerdekaan, lalu mencari penginapan yang murah. Untunglah Pak Sopir taksi yang ramah mau mengantarkan kami, putar-putar sejenak, tanya sana-sini, akhirnya sampai ke tujuan. Kami lantas menginap di Hotel Mentari, Kawasan Imam Bonjol.
Waktu menunjukkan pukul 11.30. Kami sudah leyeh-leyeh di penginapan. Capek mulai terasa. 21 jam di atas roda dengan Pahala Kencana. Tidak terpikir andai naik bis bumel, seperti apa ya capeknya? Yang penting kami telah sampai di Cikokol. Ooo gini ta Cikokol itu?.. Ternyata komplek perkantoran mulai dari Dinas Pendidikan, Depatemen Agama, Samsat, Sekolah-sekolah,dll semua ada di Cikokol. Untungnya Dinas Pendidikan Kab. Tangerang masih berlokasi di komplek yang masih masuk wilayah Kota Tangerang ini. Konon satu tahun lagi akan pindah ke ibukota Kab. Tangerang di Tigaraksa. Daerah mana lagi tu ya? Belum kebayang..