Menjelang malam sehabis maghrib, istriku berteriak-teriak memanggilku. Ternyata ada ular menyelinap di balik tumpukan buku-buku di kamar. Waktu itu istriku sedang nonton TV sambil menemani tidur si kecil. Akupun bergegas mengangkat anakku keluar kamar. Aku dan istriku heran, dari mana ular itu masuk? Sejak kapan? Padahal malam harinya kupakai tidur itu kamar. Sepertinya ular itu nyasar masuk karena mengejar mangsa atau sedang mencari kehangatan karena waktu itu udara sangat dingin sehabis hujan.Mungkin sensor ular itu menangkap sinyal kehangatan di dalam rumah sehingga masuk rumah tanpa permisi.
Sambil membawa sapu kuberanikan diri sodok sana sodok sini namun sang ular belum keluar. Nampaknya masih sembunyi di balik CPU komputer yang penuh kabel. Lalu kuambil Baygon, kusemprotkan berkali-kali. Akhirnya nongol juga tuh ular. Ternyata ular itu masih anakan. Panjangnya kira-kira 50 cm dengan diameter 2 cm. Aku sempat kewalahan mengusirnya. Ular itu lincah sekali, gesit dan sesekali menegakkan kepala sambil mengeluarkan bunyi: psst! Psst! Wah rupanya sejenis Kobra nih. Aku mulai cemas, sepertinya ular itu semakin bingung, mungkin marah karena merasa terusik.
Hampir setengah jam aku mengusir ular namun tetap saja belum berhasil. Pikiranku mulai macam-macam. Jangan-jangan ular itu adalah jin. Karena menurut hadits bisa jadi ular adalah wujud dari jin yang ada di rumah. Kalau nanti ular itu kubunuh bisa kuwalat tidak ya?, pikirku. Kontan aku menyuruh istriku memanggil Mbah Dayat yang tinggal di depan rumah. Di Kampung, Mbah Dayat merupakan sesepuh. Dia juga tau tentang hal yang mistis. Apalagi dia adalah pawang kesenian kuda lumping di kampung. Biar ditangani Mbah Dayat saja ularnya, nanti kalau ada apa-apa kan bukan aku yang kena. Wah pikiran licik nih.
Mbah Dayat datang sambil membawa bilah bambu, agak besar dan ujungnya runcing. Begitu masuk kamar langsung dipukulnya ular itu, dijepit lalu ditusuk dengan bambu. Sang ular langsung mati. Kasihan! Kalau saja si ular bisa bicara baik-baik mungkin tak kan mengenaskan seperti ini. Aku lantas bertanya pada Mbah Dayat perihal ular tersebut. Katanya ular itu adalah Ular Dumung Macan, sangat berbisa. Mungkin sejenis Kobra Jawa atau Kobra Tanah. Kata Mbah, semburan upasnya bisa membuat orang menjadi buta jika kena mata atau luka bakar jika terkena kulit. Untung-untung.. Untung istriku melihat ular itu. Untung ketahuan sehingga belum sempat ngigit. Untung tidak masuk dalam selimut anakku, atau masuk mulut anakku, karena waktu itu anakku lagi mlongoh (terbuka mulutnya). Untung.. tidak masuk dalam sarungku pas aku tidur…
Mbah Dayat bergegas membuang ular itu jauh-jauh. Akupun lantas mengambil garam. Setiap pintu masuk ku taburi garam, biar ular tidak berani masuk. Katanya garam bisa membikin perih kulit ular. Sekembalinya dari membuang ular, Mbah Dayat menyuruhku mengolesi garam pada tengkuk, dahi dan kaki anakku. Maksudnya apa ya? Kata Mbah biar terhindar dari ular lagi. Weleh-weleh.. terus penjelasan ilmiahnya apa ya? Mungkin waktu dulu ketika anak-anak masih tinggal dalam goa kali ya, biar gak digigit ular, tubuhnya dilumuri garam. Itu baru masuk akal. Selain itu Mbah Dayat juga menanyakan padaku dan istriku apa kami berdua atau keluarga masih punya rembag (janji)? Kujawab tidak. Kata Ilmu Kejawen, ular masuk rumah pertanda bahwa si empunya rumah masih punya janji yang belum dilaksanakan. Apalagi yang masuk rumah adalah Ular Weling (Jawa= pesan). Kuingat-ingat sepertinya aku gak punya janji, istriku juga. Janji apa ya? Jadi kepikiran terus. Hmmh.. Mitos memang kadang mengusik pikiran. Setelah ku ceritakan kejadian di atas kepada orang tua dan mertua, mereka kompak menjawab, “Terang saja, wong rumahmu dekat sawah!”.